KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 187/PMK.03/2015
TENTANG
TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
- bahwa ketentuan mengenai tata cara pengembalian kelebihan
pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang telah diatur dalam
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 10/PMK.03/2013; - bahwa untuk memberikan kepastian hukum terhadap pelaksanaan
tata
cara pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak
terutang, perlu mengatur kembali ketentuan mengenai tata cara
pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak
terutang; - bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam
huruf a
dan huruf b, serta untuk melaksanakan ketentuan Pasal 17 ayat (2)
Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan
Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009, perlu menetapkan Peraturan Menteri
Keuangan tentang Tata Cara Pengembalian atas Kelebihan Pembayaran Pajak
yang Seharusnya Tidak Terutang;
Mengingat :
Undang-Undang
Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara
Perpajakan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3262) sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun
2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 62,
Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4999);
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS
KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG.
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
- Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan yang
selanjutnya disebut Undang-Undang KUP adalah Undang-Undang
Nomor 6
Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana
telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun
2009. - Surat Pemberitahuan yang selanjutnya disingkat SPT adalah
surat
yang oleh Wajib Pajak digunakan untuk melaporkan penghitungan dan/atau
pembayaran pajak, objek pajak dan/atau bukan objek pajak, dan/atau
harta dan kewajiban sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan. - SPT Masa adalah SPT untuk suatu Masa Pajak.
- SPT Tahunan adalah SPT untuk suatu Tahun Pajak
atau Bagian Tahun Pajak. - Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar yang selanjutnya
disingkat
SKPLB adalah surat ketetapan pajak yang menentukan jumlah kelebihan
pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar daripada pajak
yang terutang atau seharusnya tidak terutang. - Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak
yang selanjutnya
disingkat SPMKP adalah surat perintah dari Kepala Kantor Pelayanan
Pajak kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara untuk menerbitkan
Surat Perintah Pencairan Dana sebagai dasar kompensasi Utang Pajak
dan/atau dasar pembayaran kembali kelebihan pembayaran pajak kepada
Wajib Pajak. - Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda yang selanjutnya
disingkat P3B adalah perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan
pemerintah negara mitra atau yurisdiksi mitra untuk mencegah terjadinya
pengenaan pajak berganda dan pengelakan pajak. - Surat Pemberitahuan Kekurangan Pembayaran Bea Masuk, Cukai,
Denda
Administrasi, Bunga, dan Pajak dalam rangka impor yang selanjutnya
disingkat SPKPBM adalah formulir penagihan untuk menagih bea masuk,
cukai, denda administrasi, bunga, dan pajak dalam rangka impor yang
tidak atau kurang dibayar oleh importir, pengangkut, pengusaha tempat
penimbunan sementara, pengusaha tempat penimbunan berikat, atau
pengusaha pengurusan jasa kepabeanan, yang diterbitkan oleh pejabat bea
dan cukai sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan yang
mengatur mengenai tata cara penagihan piutang bea masuk, cukai, denda
administrasi, bunga, dan pajak dalam rangka impor. - Surat Penetapan Tarif dan/atau Nilai Pabean yang
selanjutnya
disingkat SPTNP adalah surat penetapan pejabat bea dan cukai
sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur
mengenai tata cara penetapan tarif, nilai pabean, dan sanksi
administrasi, serta penetapan Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau
pejabat bea dan cukai. - Surat Penetapan Pabean yang selanjutnya disingkat SPP
adalah
surat penetapan pejabat bea dan cukai sebagaimana dimaksud dalam
Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur mengenai tata cara penetapan
tarif, nilai pabean, dan sanksi administrasi, serta penetapan Direktur
Jenderal Bea dan Cukai atau pejabat bea dan cukai. - Surat Penetapan Kembali Tarif dan/atau Nilai Pabean yang
selanjutnya disingkat SPKTNP adalah surat penetapan pejabat bea dan
cukai sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan yang
mengatur mengenai tata cara penetapan tarif, nilai pabean, dan sanksi
administrasi, serta penetapan Direktur Jenderal Bea dan Cukai atau
pejabat bea dan cukai. - Surat Keterangan Domisili bagi Subjek Pajak Luar Negeri
yang
selanjutnya disebut SKD Subjek Pajak Luar Negeri adalah surat
keterangan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang di bidang
perpajakan (Competent Authority) atau pejabat yang ditunjuk berdasarkan
P3B yang berisi status domisili (resident) Subjek Pajak Luar Negeri
dengan menggunakan formulir sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang perpajakan. - Prosedur Persetujuan Bersama atau Mutual Agreement
Procedure yang
selanjutnya disebut MAP adalah prosedur administratif yang diatur dalam
P3B untuk menyelesaikan permasalahan yang timbul dalam penerapan P3B. - Persetujuan Bersama adalah hasil yang telah disepakati
dalam
penerapan P3B oleh pejabat yang berwenang dari Pemerintah Indonesia dan
pemerintah negara mitra atau yurisdiksi mitra P3B sehubungan dengan MAP
yang telah dilaksanakan.
RUANG LINGKUP
Pasal 2
Permohonan pengembalian atas
kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak
terutang dapat diajukan dalam hal:
- terdapat pembayaran pajak yang bukan merupakan objek pajak
yang terutang atau yang seharusnya tidak terutang; - terdapat kelebihan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak yang
terkait dengan pajak dalam rangka impor; - terdapat kesalahan pemotongan
atau pemungutan yang
mengakibatkan pajak yang dipotong atau dipungut lebih besar daripada
pajak yang seharusnya dipotong atau dipungut; - terdapat kesalahan pemotongan
atau pemungutan yang bukan merupakan objek pajak; atau - terdapat kelebihan pemotongan atau pemungutan Pajak
Penghasilan terkait penerapan P3B bagi Subjek Pajak Luar Negeri.
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
ATAS PEMBAYARAN PAJAK OLEH PIHAK PEMBAYAR
Pasal 3
Pembayaran pajak yang bukan merupakan objek pajak yang terutang atau
yang seharusnya tidak terutang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf
a dapat berupa:
- pembayaran pajak yang lebih besar dari pajak yang terutang;
- pembayaran pajak atas transaksi yang dibatalkan;
- pembayaran pajak yang seharusnya tidak dibayar; atau
- pembayaran pajak terkait dengan permintaan penghentian
penyidikan
tindak pidana di bidang perpajakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44B
Undang-Undang KUP yang tidak disetujui.
| (1) | Pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dapat diminta kembali oleh pihak pembayar yang bersangkutan dengan mengajukan permohonan. |
| (2) | Pihak pembayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
|
| (3) | Permohonan pengembalian diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. |
| (4) | Permohonan pengembalian harus ditandatangani oleh pihak pembayar. |
| (5) | Dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan pihak pembayar, permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (6) | Permohonan pengembalian harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (7) | Permohonan pengembalian disampaikan secara langsung ke:
dan kepadanya diberikan bukti penerimaan surat. |
| (8) | Selain penyampaian permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), permohonan dapat disampaikan melalui:
|
| (9) | Bukti penerimaan surat atau bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) atau ayat (8) merupakan bukti penerimaan surat permohonan. |
| (1) | Direktur Jenderal Pajak meneliti kebenaran pembayaran pajak berdasarkan permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. |
| (2) | Dalam rangka meneliti kebenaran pembayaran pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat meminta dokumen dan/atau keterangan kepada pemohon. |
| (3) | Hasil penelitian berupa pengembalian diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (4) | Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil penelitian. |
| (5) | Dalam hal laporan hasil penelitian terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPLB. |
| (6) | Dalam hal laporan hasil penelitian tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menyampaikan surat pemberitahuan penolakan kepada pemohon. |
| (1) | Dalam hal pihak pembayar pajak merupakan Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan, SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5) diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penerbitan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak. |
| (2) | Dalam hal pihak pembayar pajak merupakan orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (5) diterbitkan dengan mengisi kolom Nomor Pokok Wajib Pajak dengan ketentuan sebagai berikut:
|
| (1) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dilakukan melalui penerbitan SPMKP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. |
| (2) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dilakukan melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia dalam mata uang Rupiah atas nama orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. |
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
ATAS KELEBIHAN PAJAK DALAM RANGKA IMPOR
Pasal 8
Kelebihan pembayaran pajak yang terkait dengan pajak dalam rangka impor
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf b meliputi Pajak Penghasilan
Pasal 22 impor, Pajak Pertambahan Nilai impor, dan/atau Pajak Penjualan
atas Barang Mewah impor yang telah dibayar dan tercantum dalam:
- SPTNP atau SPKTNP;
- SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan keputusan
keberatan; - SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan keputusan
keberatan dan putusan banding; - SPKPBM, SPTNP, atau SPP yang telah diterbitkan keputusan
keberatan, putusan banding, dan putusan peninjauan kembali; - SPKTNP yang telah diterbitkan putusan banding;
- SPKTNP yang telah diterbitkan putusan banding dan putusan
peninjauan kembali; atau - dokumen yang berisi pembatalan impor yang telah disetujui
oleh pejabat yang berwenang,
yang menyebabkan terjadinya kelebihan pembayaran pajak.
| (1) | Kelebihan pembayaran pajak oleh Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dapat diminta kembali oleh Wajib Pajak yang bersangkutan dengan mengajukan permohonan. |
| (2) | Wajib Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi Wajib Pajak orang pribadi dan Wajib Pajak badan. |
| (3) | Permohonan pengembalian diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. |
| (4) | Permohonan pengembalian harus ditandatangani oleh Wajib Pajak. |
| (5) | Dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak, permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (6) | Permohonan pengembalian harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (7) | Permohonan pengembalian disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar dan kepadanya diberikan bukti penerimaan surat. |
| (8) | Selain penyampaian permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (7), permohonan dapat disampaikan melalui:
|
| (9) | Bukti penerimaan surat atau bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (7) atau ayat (8) merupakan bukti penerimaan surat permohonan. |
| (1) | Direktur Jenderal Pajak meneliti kebenaran pembayaran pajak berdasarkan permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9. |
| (2) | Dalam rangka meneliti kebenaran pembayaran pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat meminta dokumen dan/atau keterangan kepada pemohon. |
| (3) | Hasil penelitian berupa pengembalian diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (4) | Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil penelitian. |
| (5) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPLB. |
| (6) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menyampaikan surat pemberitahuan penolakan kepada pemohon. |
| (1) | SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (5) diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penerbitan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak. |
| (2) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui penerbitan SPMKP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. |
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK
ATAS KESALAHAN PEMOTONGAN ATAU PEMUNGUTAN
Pasal 12
| (1) | Kesalahan pemotongan atau pemungutan yang mengakibatkan pajak yang dipotong atau dipungut lebih besar daripada pajak yang seharusnya dipotong atau dipungut sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf c dapat berupa:
|
| (2) | Kesalahan pemotongan atau pemungutan yang bukan merupakan objek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf d dapat berupa:
|
| (1) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terkait dengan Pajak Penghasilan, pajak yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Wajib Pajak yang dipotong atau dipungut dengan mengajukan permohonan. |
| (2) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terkait dengan Pajak Pertambahan Nilai, pajak yang seharusnya tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh pihak yang dipungut, sepanjang pihak yang dipungut bukan Pengusaha Kena Pajak, dengan mengajukan permohonan. |
| (3) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terkait dengan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, pajak yang seharusnya tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh pihak yang dipungut dengan mengajukan permohonan. |
| (4) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terhadap Subjek Pajak Luar Negeri yang memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, pajak yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Subjek Pajak Luar Negeri tersebut melalui bentuk usaha tetap di Indonesia dengan mengajukan permohonan. |
| (5) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terhadap Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, pajak yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Subjek Pajak Luar Negeri tersebut melalui Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan dengan mengajukan permohonan. |
| (6) | Dalam hal terjadi kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terhadap orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, pajak yang seharusnya tidak dipotong atau tidak dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh orang pribadi atau badan tersebut melalui Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan dengan mengajukan permohonan. |
| (7) | Dalam hal Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan ayat (6) tidak dapat ditemukan yang disebabkan antara lain karena pembubaran usaha, permohonan diajukan secara langsung oleh pihak yang dipotong atau dipungut. |
| (1) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. |
| (2) | Permohonan pengembalian harus ditandatangani oleh Wajib Pajak atau pihak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13. |
| (3) | Dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak atau pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (4) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (5) | Permohonan pengembalian yang diajukan oleh Subjek Pajak Luar Negeri yang memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (6) | Permohonan pengembalian yang diajukan oleh Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan yang bertindak untuk dan atas nama Subjek Pajak Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (7) | Permohonan pengembalian yang diajukan oleh Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan atau Pengusaha Kena Pajak yang melakukan pemungutan yang bertindak untuk dan atas nama orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (6) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (8) | Dalam hal pemotong atau pemungut tidak dapat ditemukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (7) dan pihak yang dipotong atau dipungut merupakan Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, permohonan dilakukan secara langsung oleh Subjek Pajak Luar Negeri tersebut dan harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (9) | Dalam hal pemotong atau pemungut tidak dapat ditemukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (7) dan pihak yang dipotong atau dipungut merupakan orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, permohonan dilakukan secara langsung oleh orang pribadi atau badan tersebut dan harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (10) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak yang dipotong atau dipungut terdaftar dan kepada pemohon diberikan bukti penerimaan surat. |
| (11) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat bentuk usaha tetap terdaftar dan kepada pemohon diberikan bukti penerimaan surat. |
| (12) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (5), ayat (6), dan ayat (7) disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan terdaftar atau Pengusaha Kena Pajak yang melakukan pemungutan dikukuhkan dan kepada pemohon diberikan bukti penerimaan surat. |
| (13) | Selain penyampaian permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (10), ayat (11), dan ayat (12), permohonan dapat disampaikan melalui:
|
| (14) | Bukti penerimaan surat atau bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (10), ayat (11), ayat (12), atau ayat (13) merupakan bukti penerimaan surat permohonan. |
| (1) | Direktur Jenderal Pajak meneliti kebenaran pembayaran pajak berdasarkan permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14. |
| (2) | Dalam rangka meneliti kebenaran pembayaran pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat meminta dokumen dan/atau keterangan kepada pemohon. |
| (3) | Hasil penelitian berupa pengembalian terkait dengan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (1) diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (4) | Hasil penelitian berupa pengembalian terkait dengan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (2) diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (5) | Hasil penelitian berupa pengembalian terkait dengan pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (3) diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (6) | Hasil penelitian berupa pengembalian terkait dengan kesalahan pemotongan atau pemungutan pajak terhadap Subjek Pajak Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 ayat (4) dan ayat (5) diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (7) | Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil penelitian. |
| (8) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPLB. |
| (9) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menyampaikan surat pemberitahuan penolakan kepada pemohon. |
| (10) | Dalam hal atas permohonan kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang telah diterbitkan SKPLB terhadap Subjek Pajak Luar Negeri, Direktur Jenderal Pajak mengirimkan informasi kepada otoritas perpajakan negara domisili Subjek Pajak Luar Negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (1) | SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (8) diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penerbitan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak dalam hal pihak yang dipotong atau dipungut merupakan:
|
| (2) | Dalam hal Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c tidak dapat ditemukan, SKPLB diterbitkan atas nama pihak yang dipotong atau dipungut, dengan mengisi kolom Nomor Pokok Wajib Pajak dengan ketentuan sebagai berikut:
|
| (1) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dilakukan melalui penerbitan SPMKP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. |
| (2) | Dalam hal pihak yang dipotong atau dipungut merupakan orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak, pengembalian pajak atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dilakukan melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia dalam mata uang Rupiah atas nama orang pribadi atau badan yang tidak diwajibkan memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak. |
| (3) | Dalam hal pihak yang dipotong atau dipungut merupakan Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, pengembalian pajak atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) dilakukan melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia dalam mata uang Rupiah atas nama Subjek Pajak Luar Negeri yang berkenaan atau orang pribadi atau badan yang ditunjuk oleh Subjek Pajak Luar Negeri. |
| (4) | Dalam hal pengembalian pajak melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia atas nama orang pribadi atau badan yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (3), Subjek Pajak Luar Negeri menyampaikan surat penunjukan nomor rekening bank di Indonesia kepada Direktur Jenderal Pajak. |
PENGEMBALIAN KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN
ATAS KELEBIHAN PEMOTONGAN ATAU PEMUNGUTAN TERKAIT PENERAPAN P3B
Pasal 18
Kelebihan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan terkait
penerapan P3B sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf e disebabkan:
- kesalahan penerapan P3B;
- keterlambatan pemenuhan persyaratan administratif untuk
menerapkan P3B setelah terjadi pemotongan atau pemungutan; atau - Persetujuan Bersama.
| (1) | Dalam hal terdapat kelebihan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan terhadap Subjek Pajak Luar Negeri yang memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, pajak yang dipotong atau dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Subjek Pajak Luar Negeri yang dipotong atau dipungut melalui bentuk usaha tetap di Indonesia dengan mengajukan permohonan. |
| (2) | Dalam hal terdapat kelebihan pemotongan atau pemungutan Pajak Penghasilan terhadap Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia, pajak yang dipotong atau dipungut tersebut dapat diminta kembali oleh Subjek Pajak Luar Negeri yang dipotong atau dipungut melalui Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan dengan mengajukan permohonan. |
| (3) | Dalam hal Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak dapat ditemukan yang disebabkan antara lain karena pembubaran usaha, permohonan diajukan secara langsung oleh Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia. |
| (1) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia. |
| (2) | Permohonan pengembalian harus ditandatangani oleh Wajib Pajak atau pihak yang mengajukan permohonan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19. |
| (3) | Dalam hal permohonan ditandatangani oleh bukan Wajib Pajak atau pihak sebagaimana dimaksud pada ayat (2), permohonan harus dilampiri dengan surat kuasa khusus sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (4) | Permohonan pengembalian yang diajukan oleh Subjek Pajak Luar Negeri melalui bentuk usaha tetap di Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (5) | Permohonan pengembalian yang diajukan oleh Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan yang bertindak untuk dan atas nama Subjek Pajak Luar Negeri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (6) | Dalam hal pemotong atau pemungut tidak dapat ditemukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (3), permohonan dilakukan secara langsung oleh Subjek Pajak Luar Negeri dan harus dilampiri dengan dokumen berupa:
|
| (7) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat bentuk usaha tetap terdaftar dan kepada pemohon diberikan bukti penerimaan surat. |
| (8) | Permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2) dan ayat (3) disampaikan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan terdaftar dan kepada pemohon diberikan bukti penerimaan surat. |
| (9) | Selain penyampaian permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dan ayat (8), permohonan dapat disampaikan melalui:
|
| (10) | Bukti penerimaan surat atau bukti pengiriman surat sebagaimana dimaksud pada ayat (7), ayat (8), atau ayat (9) merupakan bukti penerimaan surat permohonan. |
| (1) | Direktur Jenderal Pajak meneliti kebenaran pembayaran pajak berdasarkan permohonan pengembalian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. |
| (2) | Dalam rangka meneliti kebenaran pembayaran pajak, Direktur Jenderal Pajak dapat meminta dokumen dan/atau keterangan kepada pemohon. |
| (3) | Hasil penelitian berupa pengembalian diberikan dalam hal memenuhi ketentuan:
|
| (4) | Penelitian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil penelitian. |
| (5) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menerbitkan SKPLB. |
| (6) | Dalam hal berdasarkan laporan hasil penelitian tidak terdapat kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang, Direktur Jenderal Pajak menyampaikan surat pemberitahuan penolakan kepada pemohon. |
| (7) | Dalam hal atas permohonan kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang telah diterbitkan SKPLB, Direktur Jenderal Pajak mengirimkan informasi kepada otoritas perpajakan negara domisili Subjek Pajak Luar Negeri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan. |
| (1) | SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (5) diterbitkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penerbitan surat ketetapan pajak dan surat tagihan pajak dalam hal pihak yang dipotong atau dipungut merupakan:
|
| (2) | Dalam hal Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b tidak dapat ditemukan, SKPLB diterbitkan atas nama Subjek Pajak Luar Negeri yang tidak memiliki bentuk usaha tetap di Indonesia dengan mengisi kolom Nomor Pokok Wajib Pajak dengan ketentuan sebagai berikut:
|
| (1) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (1) dilakukan melalui penerbitan SPMKP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara penghitungan dan pengembalian kelebihan pembayaran pajak. |
| (2) | Pengembalian pajak yang seharusnya tidak terutang atas SKPLB sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (2) dilakukan melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia dalam mata uang Rupiah atas nama Subjek Pajak Luar Negeri yang berkenaan atau orang pribadi atau badan yang ditunjuk oleh Subjek Pajak Luar Negeri. |
| (3) | Dalam hal pengembalian pajak melalui penerbitan SPMKP ke rekening bank di Indonesia atas nama orang pribadi atau badan yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Subjek Pajak Luar Negeri menyampaikan surat penunjukan nomor rekening bank di Indonesia kepada Direktur Jenderal Pajak. |
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal 24
Dokumen berupa :
- permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (3), Pasal 9 ayat (3), Pasal 14
ayat (1), dan Pasal 20 ayat (1); - permohonan pengembalian atas kelebihan pembayaran pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) yang diajukan oleh Wajib
Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan yang bertindak atas
nama pihak yang dipotong atau dipungut; - surat kuasa dari orang pribadi atau badan yang tidak
diwajibkan
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak kepada pemotong atau pemungut
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (7) huruf d; - surat permohonan dari Subjek Pajak Luar Negeri sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat (6) huruf d, dan Pasal 20 ayat (5) huruf d; - surat kuasa dari Subjek Pajak Luar Negeri yang dipotong
atau
dipungut kepada Wajib Pajak yang melakukan pemotongan atau pemungutan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (6) huruf e dan Pasal 20 ayat
(5) huruf e; - dokumen pendukung bagi Subjek Pajak Luar Negeri yang
menerima
atau memperoleh penghasilan terkait dengan P3B sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 ayat (4) huruf g, ayat (5) huruf i, dan ayat (6) huruf g; - laporan hasil penelitian permohonan pengembalian atas
kelebihan
pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (4), Pasal 10
ayat (4), Pasal 15 ayat (7), dan Pasal 21 ayat (4); - surat pemberitahuan penolakan permohonan pengembalian atas
kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (6), Pasal 10 ayat (6), Pasal 15 ayat (9),
dan Pasal 21 ayat (6); dan - surat penunjukan nomor rekening bank di Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (4) dan Pasal 23 ayat (3),
dibuat dengan menggunakan format sesuai contoh sebagaimana tercantum
dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan
Menteri ini.
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 25
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, terhadap permohonan
pengembalian kelebihan pembayaran pajak yang seharusnya tidak terutang
yang diajukan sebelum berlakunya Peraturan Menteri ini dan belum
diterbitkan SKPLB atau surat pemberitahuan penolakan, proses
penyelesaian permohonan tersebut dilakukan berdasarkan ketentuan
sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ini.
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 26
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 10/PMK.03/2013
tentang Tata Cara Pengembalian Kelebihan
Pembayaran Pajak yang Seharusnya Tidak Terutang, dicabut dan dinyatakan
tidak berlaku.
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
pada tanggal 30 September 2015
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
BAMBANG P. S. BRODJONEGORO
Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal 30 September 2015
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
YASONNA H. LAOLY
INDONESIA TAHUN 2015 NOMOR 1471
