KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 128/PMK.010/2019
TENTANG
PEMBERIAN PENGURANGAN PENGHASILAN BRUTO ATAS PENYELENGGARAAN
KEGIATAN PRAKTIK KERJA, PEMAGANGAN, DAN/ATAU PEMBELAJARAN
DALAM RANGKA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA
MANUSIA BERBASIS KOMPETENSI TERTENTU
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang :
bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 30 huruf c Peraturan
Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun
Berjalan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun
Berjalan, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pemberian
Pengurangan Penghasilan Bruto atas Penyelenggaraan Kegiatan Praktik
Kerja, Pemagangan, dan/atau Pembelajaran dalam
Rangka Pembinaan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Berbasis
Kompetensi Tertentu;
Mengingat :
Peraturan
Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun
Berjalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 161,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5183) sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Peraturan
Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan
Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun
Berjalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2019 Nomor 119,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6361);
Menetapkan :
PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG PEMBERIAN PENGURANGAN PENGHASILAN
BRUTO ATAS PENYELENGGARAAN KEGIATAN PRAKTIK KERJA, PEMAGANGAN, DAN/ATAU
PEMBELAJARAN DALAM RANGKA PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA
MANUSIA BERBASIS KOMPETENSI TERTENTU.
Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan:
- Wajib Pajak adalah Wajib Pajak badan dalam negeri yang
mengeluarkan biaya untuk kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau
pembelajaran dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya
manusia yang berbasis kompetensi tertentu. - Penghasilan bruto adalah semua penghasilan yang diterima
dan/atau diperoleh dari kegiatan usaha dan dari luar kegiatan usaha,
setelah dikurangi dengan retur dan pengurangan penjualan serta potongan
tunai dalam Tahun Pajak yang bersangkutan, sebelum dikurangi biaya
untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia. - Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau
Online Single Submission yang selanjutnya disingkat OSS adalah
perizinan berusaha yang diterbitkan oleh Lembaga OSS untuk dan atas
nama menteri, pimpinan lembaga, gubernur, atau bupati/walikota kepada
pelaku usaha melalui sistem elektronik yang terintegrasi. - Perjanjian Kerja Sama adalah perjanjian antara Wajib Pajak
dengan sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, perguruan
tinggi program diploma pada pendidikan vokasi, balai latihan kerja,
atau instansi yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang
ketenagakerjaan Pusat, Pemerintah Provinsi, atau Pemerintah
Kabupaten/Kota bagi perorangan yang tidak terikat hubungan kerja dengan
pihak manapun, dalam rangka penyelenggaraan kegiatan praktik kerja,
pemagangan, dan/atau pembelajaran dalam rangka pembinaan dan
pengembangan sumber daya manusia berbasis kompetensi tertentu. - Surat Keterangan Fiskal adalah informasi yang diberikan
oleh Direktorat Jenderal Pajak mengenai kepatuhan Wajib Pajak selama
periode tertentu untuk memenuhi persyaratan memperoleh pelayanan atau
dalam rangka pelaksanaan kegiatan tertentu.
| (1) | Wajib Pajak dapat diberikan pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200% (dua ratus persen) dari jumlah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran. |
| (2) | Pengurangan penghasilan bruto paling tinggi 200% (dua ratus persen) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
|
| (3) | Wajib Pajak dapat memanfaatkan tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dengan memenuhi ketentuan:
|
| (4) | Kompetensi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a merupakan kompetensi yang diajarkan pada:
|
| (5) | Daftar kompetensi tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (4) tercantum dalam Lampiran A yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam Peraturan Menteri ini. |
| (1) | Kegiatan praktik kerja dan/atau pemagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) merupakan kegiatan yang diikuti oleh:
yang dilakukan Wajib Pajak di tempat usaha Wajib |
| (2) | Kegiatan pembelajaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) merupakan kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh pihak yang ditugaskan oleh Wajib Pajak untuk mengajar di sekolah menengah kejuruan, madrasah aliyah kejuruan, perguruan tinggi program diploma pada pendidikan vokasi, dan/atau balai latihan kerja. |
Biaya untuk kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran
dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang
mendapatkan tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b, meliputi biaya:
- penyediaan fasilitas fisik khusus berupa tempat pelatihan
dan biaya penunjang fasilitas fisik khusus meliputi listrik, air, bahan
bakar, biaya pemeliharaan, dan biaya terkait lainnya untuk keperluan
pelaksanaan praktik kerja dan/atau kegiatan pemagangan; - instruktur atau pengajar sebagai tenaga pembimbing praktik
kerja, pemagangan, dan/atau kegiatan pembelajaran; - barang dan/atau bahan untuk keperluan pelaksanaan kegiatan
praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran; - honorarium atau pembayaran sejenis yang diberikan kepada
siswa, mahasiswa, peserta latih, perorangan yang tidak terikat hubungan
kerja pihak manapun, pendidik/pelatih, tenaga kependidikan/kepelatihan,
dan/atau instruktur yang merupakan peserta praktik kerja dan/atau
pemagangan; dan/atau - Biaya sertifikasi kompetensi bagi siswa, mahasiswa, peserta
latih, perorangan yang tidak terikat hubungan kerja pihak manapun,
pendidik/pelatih, tenaga kependidikan/kepelatihan, dan/atau instruktur
yang merupakan peserta praktik kerja dan/atau pemagangan oleh lembaga
yang memiliki kewenangan melakukan sertifikasi kompetensi sesuai
peraturan perundang-undangan.
Tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal
2 ayat (2) huruf b berlaku ketentuan sebagai berikut:
| a. | Untuk biaya perolehan barang berwujud dan tidak berwujud terkait penyediaan fasilitas fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun, tambahan pengurangan penghasilan bruto dihitung dari biaya penyusutan atau amortisasi barang berwujud dan tidak berwujud bersangkutan yang dibebankan pada saat bulan dilakukannya kegiatan praktik kerja dan/atau pemagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1). |
| b. | Untuk biaya selain biaya sebagaimana dimaksud pada huruf a, tambahan pengurangan penghasilan bruto dihitung dari biaya yang sesungguhnya dikeluarkan yang dibebankan pada Tahun Pajak bersangkutan. |
| c. | Dalam hal biaya penyediaan fasilitas fisik khusus berupa tempat pelatihan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a merupakan barang berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun dan tidak digunakan penuh selama satu Tahun Pajak untuk kegiatan praktik kerja dan/atau pemagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), tambahan pengurangan penghasilan bruto dibebankan secara proporsional berdasarkan waktu pemanfaatan dalam satu Tahun Pajak. |
| d. | Dalam hal biaya penyediaan fasilitas fisik khusus berupa tempat pelatihan merupakan biaya listrik, air, dan bahan bakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a tidak dapat dipisahkan antara biaya untuk tujuan produksi komersial dan biaya terkait pelaksanaan praktik kerja dan/atau pemagangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1), tambahan pengurangan penghasilan bruto dibebankan secara proporsional berdasarkan pemanfaatan yang terkait dengan kegiatan praktik kerja dan/atau pemagangan. |
| e. | Untuk biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf d yang diberikan kepada peserta praktik kerja dan/atau pemagangan yang mempunyai hubungan:
dengan |
| f. | Dalam hal praktik kerja dan/atau pemagangan dilakukan dengan menggunakan fasilitas fisik, bahan, dan/atau barang yang digunakan dalam produksi komersial, tambahan pengurangan penghasilan bruto hanya dapat diberikan atas biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b, huruf d, dan huruf e. |
| g. | Tambahan pengurangan penghasilan bruto dapat dibebankan sebagai biaya dengan syarat tambahan pengurangan penghasilan bruto tersebut tidak menyebabkan rugi fiskal tahun berjalan. |
| h. | Dalam hal tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud pada huruf g menyebabkan rugi fiskal tahun berjalan, besaran tambahan pengurangan penghasilan bruto yang dapat dikurangkan pada tahun berjalan sebesar jumlah yang tidak menyebabkan rugi fiskal pada tahun berjalan. |
| i. | Tambahan pengurangan penghasilan bruto atas biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf a tidak dapat diberikan dalam hal fasilitas fisik yang digunakan merupakan bagian dari penanaman modal yang telah mendapatkan fasilitas pengurangan penghasilan neto sebagaimana dimaksud dalam:
|
Penghitungan besaran tambahan pengurangan penghasilan
bruto yang dapat dikurangkan pada tahun
berjalan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) dan Pasal 5
huruf h dilakukan sesuai dengan contoh sebagaimana
tercantum dalam Lampiran B yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan
dari Peraturan Menteri ini.
| (1) | Untuk mendapatkan tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b, Wajib Pajak melakukan penyampaian pemberitahuan melalui sistem OSS dengan melampirkan:
|
| (2) | Pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat sebelum dilakukannya kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi tertentu dimulai. |
| (3) | Perjanjian Kerja Sama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a paling sedikit memuat:
|
| (4) | Dalam hal sistem OSS tidak berjalan sebagaimana mestinya, penyampaian pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara luar jaringan oleh Wajib Pajak kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak yang membawahi Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar menggunakan surat sesuai contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran C. |
| (5) | Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) telah diterima secara lengkap dan benar, sistem OSS mengeluarkan notifikasi yang menyatakan Wajib Pajak memenuhi kriteria untuk memperoleh tambahan pengurangan penghasilan bruto kepada Wajib Pajak bersangkutan. |
| (6) | Dalam hal pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) telah diterima secara lengkap dan benar, Wajib Pajak dinyatakan memenuhi kriteria untuk memperoleh tambahan pengurangan penghasilan bruto. |
| (1) | Wajib Pajak yang telah memanfaatkan tambahan pengurangan penghasilan bruto, wajib menyampaikan laporan biaya kegiatan praktik kerja, pemagangan, dan/atau pembelajaran dalam rangka pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi tertentu setiap tahun kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar paling lambat bersamaan dengan penyampaian Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan badan Tahun Pajak pemanfaatan tambahan pengurangan penghasilan bruto. |
| (2) | Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan sesuai contoh format sebagaimana tercantum dalam Lampiran D yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini. |
| (3) | Dalam hal Wajib Pajak tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) atau menyampaikan laporan namun tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat Wajib Pajak terdaftar menerbitkan surat teguran kepada Wajib Pajak untuk menyampaikan laporan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari sejak surat teguran disampaikan. |
Direktorat Jenderal Pajak berwenang untuk menentukan bahwa tambahan
pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat
(2) huruf b tidak dapat diberikan, dalam hal Wajib Pajak:
- tidak membuat Perjanjian Kerja Sama sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 7 ayat (3); - melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan rencana
kompetensi yang diajarkan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian Kerja
Sama; - tidak menyampaikan pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 ayat (1) atau ayat (3); atau - tidak menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
8 ayat (1) setelah berakhirnya jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 ayat (3) atau menyampaikan laporan namun tidak memenuhi
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (2).
| (1) | Kementerian dan/atau Dinas terkait dapat melakukan evaluasi efektivitas pemberian pengurangan penghasilan bruto yang diterima Wajib Pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). |
| (2) | Kementerian dan/atau Dinas terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah:
|
| (3) | Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi evaluasi terhadap:
|
| (4) | Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada Direktur Jenderal Pajak melalui Direkur Peraturan Perpajakan II. |
| (5) | Dalam hal berdasarkan evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) kegiatan yang dilakukan Wajib Pajak dinilai tidak efektif, tambahan pengurangan penghasilan bruto sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) huruf b tidak diberikan kepada Wajib Pajak untuk Tahun-Tahun Pajak berikutnya setelah dilakukannya evaluasi dari Kementerian dan/atau Dinas terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (2). |
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan
Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
| Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 September 2019 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SRI MULYANI INDRAWATI |
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 9 September 2019
DIREKTUR JENDERAL
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA
REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
WIDODO EKATJAHJANA
INDONESIA TAHUN 2019 NOMOR 1028
