Tax holiday dirasa menjadi insentif yang paling kompetitif untuk mendorong laju pertumbuhan sektor riil. Namun, sejak beberapa tahun lalu, usulan tax holiday selalu kandas di Kementerian Keuangan.
Pada era Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, tax holiday kembali agresif diusulkan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Lagi-lagi, usulan tersebut mendapat tentangan dari Ditjen Pajak yang dinilai akan menyeret Indonesia ke dalam persaingan tidak fair untuk mendapatkan investasi.
"Dengan dilantiknya Agus Martowardojo sebagai Menkeu saya berharap ada terobosan [soal kelanjutan tax holiday] dari beliau karena Agus merupakan profesional dari sektor keuangan swasta yang memahami seluk-beluk sektor riil," kata Hidayat, kemarin.
Saat ini, lanjutnya, Kemenperin dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan telah sepaham bahwa Indonesia harus memiliki kebijakan fiskal yang kompetitif dibandingkan dengan Thailand, Malaysia dan Vietnam dalam mendorong pertumbuhan investasi sektor riil.
"Saya yakin dengan masuknya Agus ke jajaran pemerintahan, kami bertiga bisa memelopori berbagai dukungan kepada industri sehingga dalam 5 tahun bisa tumbuh dengan baik di atas 7%. Tax holiday akan terus didesakkan dan segera dipercepat pembahasan serta realisasinya," papar Hidayat.
Gita Wiryawan menerangkan pemerintah sedang giat memacu realisasi target investasi sebesar Rp10.000 triliun dalam 5 tahun ke depan.
Dari target tersebut, terangnya, 50% atau sekitar Rp5.000 triliun harus datang dari sektor swasta. Dari nilai tersebut, sebanyak 30% atau Rp1.500 triliun harus datang dari sektor infrastruktur dasar.
Untuk mendorong arus investasi ke dalam negeri, jelas Gita, insentif fiskal yang kompetitif berpedoman pada efektivitas peningkatan nilai tambah pajak (tax benefit) kepada negara.
Berkali-lipat
Jika pemerintah memberikan pajak secara cuma-cuma sekitar 100 dari nilai saat itu (present value), terangnya, pajak yang didapat pemerintah akan bertambah beberapa kali lipat dari nilai saat itu.
"Saat ini, harga 1 zak semen di Papua mencapai Rp1,2 juta sedangkan di Jakarta hanya sekitar Rp50.000 per zak. Di sini ada masalah kurangnya konektivitas dan rapuhnya infrastruktur. Penyakit ini harus segera diobati dengan injeksi investasi besar-besaran," katanya.
Dengan adanya tax holiday, jelas Hidayat, Kemenperin memprioritaskan lima sektor industri mendapatkan insentif fiskal dalam mendorong pertumbuhan investasi dalam 5 tahun ke depan.
Kelima sektor tersebut adalah sektor manufaktur berbasis padat modal, padat karya berteknologi tinggi, industri setengah jadi (semi-finished), sektor otomotif, pertrokimia serta industri yang berbasis renewable energy.
