Follow Us :

Ingat Pajak Hongkong? Kini kondisi bangunannya yang terletak di Jalan Cirebon terlihat seperti sebuah pasar modern, jauh berbeda dari citranya sebagai pasar tradisional tempo dulu. Kesan pertama kali yang terasa saat menginjak pasar ini adalah pasar yang wah. Sebab, pajak yang sudah berdiri sebelum ada Pajak Ikan ini letaknya menyatu dengan bangunan Hotel Novotel Soechi. Apalagi, ada sebuah plaza yang eksis di atasnya, yakni Plaza Hongkong.

Pajak Hongkong, nama sebuah pasar yang masih tenar di telinga hingga kini memang belum terlupakan. Kendati tidak terdaftar dalam Perusahaan Daerah (PD) Pasar, tetapi kondisi pasar ini justru sedikit lebih baik dari pada pasar-pasar lainnya. Yang sama, hanya apa yang menjadi barang dagangan, yakni kebutuhan pokok.

“Pajak ini sudah lama kali ada, sebelum ada Pajak Ikan. Pajak ikan saja sudah berdiri sekitar 100 tahun lalu, sejak zaman kolonial Belanda,” kata Acuan, seorang pedagang, kepada Medan Bisnis.

Acuan (46) memang tidak begitu mengerti bagaimana aslinya pajak ini semula. Yang dia dengar dari orang terdahulu, pajak ini dulunya dikenal dengan penyedia tekstil. Kalau disamakan, hampir sama dengan Pajak Ikan sekarang.

Perubahan mulai ada pada pajak yang kini letaknya tersembunyi di lantai dasar Plaza Hongkong dan Hotel Soechi itu, saat Pajak Ikan mulai dibuka pada seratus tahun lalu. Awalnya, Pajak Ikan dibangun sebagai tempat pusat pasar. Lama kelamaan, pedagang kebutuhan pokok di sana pun berpindahan ke Pusat Pasar yang menjadi sentra pasar baru dahulu kala, sebagai pengganti Pajak Ikan.

Kondisi ini pula, katanya, memengaruhi pedagang di Pajak Hongkong. Pedagang tekstil, khususnya, mulai pindah dan beradu nasib di Pajak Ikan. Sehingga, berkumpullah pedagang tekstil di sana. Dan sampai sekarang, pajak yang terletak dekat Jalan Kereta Api itu terkenal dengan penjualan tekstil. Padahal, dulunya, sebutan tersebut akrab dengan pajak ini.

Kondisi Sekarang

Keadaan Pajak Hongkong tak ubahnya hampir sama dengan pasar tradisional lainnya. Pajak yang tidak begitu banyak pedagangnya ini, yakni berkisar 100 pedagang mulai beroperasi hanya sampai pukul 11 siang. Saat ini, Pajak Hongkong telah beralih. Lihat saja barang-barang yang dijual. Hampir rata-rata kebutuhan pokok.

Maka tidak heran, kalau ada bau busuk yang ditimbulkan dari selokan menguap. Apalagi jika datang hujan. Bau itu seolah menjadi ‘udara segar’ setiap harinya bagi pedagang. Dan itu, bukanlah masalah bagi mereka. Yang terpenting, mereka bisa bekerja dan mencari uang.

Pedagang pajak ini juga hampir sama dengan Pajak Sambas yang terletak di belakang RS Permata Bunda, pada umumnya para pedagangnya adalah etnis Tionghoa. Jadi tak heran kalau harga penjualan di pajak yang letaknya paling bawah ini, tepatnya di bawah bangunan hotel lebih mahal dari pada pasar tradisonal lainnya. Begitu juga dengan pembelinya.

Menurut seorang pedagang sayur, Jhonny, dia sudah lama berjualan di pasar ini. Jualannya ini merupakan turunan sang ayah yang telah meninggal. “Karena ada tempat meja jualnya, jadi sayang kalau dibiarkan. Makanya saya lanjutkan saja,” katanya.

Lebih lanjut, dia mengatakan, saat ini Pajak Hongkong juga akan berkompetisi dengan pasar tradisional lainnya. Dia mengakui, pajak ini memang diperuntukkan untuk menjual kebutuhan pokok. Sedangkan pakaian dan barang-barang lainnya yang bukan termasuk kebutuhan pokok sudah tersedia di plazanya.

Harapan pasar tradisional menjadi pasar idaman, termasuk Pajak Hongkong ini tercetus odari salah seorang pembeli, Yeni, seorang ibu rumah tangga. Dia berharap, pasar ini menjadi perhatian pemerintah nantinya. Selain itu juga, karena pasar ini terbilang pasar tua, hendaknya kebersihan dan perawatan gedungnya tetap terjaga. Tapi kini, memang, Pajak Hongkong sudah tidak seperti dulu lagi.

error: Content is protected