Daya saing industri butuh peningkatan kapasitas & insentif pajak
Kemampuan perusahaan lokal membuat produk karoseri berkualitas tak perlu diragukan lagi.
Namun, implementasi perdagangan bebas dengan China yang memicu kehadiran produk murah menjadi tantangan tersendiri. Terlebih, dukungan pemerintah terhadap industri ini belum tampak.
Bukti kehebatan karoseri lokal tampak dari berbagai produk yang dipajang dalam The Indonesia International Bus, Truck dan Components Exhibition (IIBT) 2010 yang digelar di JI Expo Kemayoran, Jakarta, 24-27 Maret 2010.
Dalam pameran yang diikuti oleh lebih dari 400 perusahaan dari 21 negara seperti China, India, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, dan Taiwan itu, perusahaan Indonesia menampilkan berbagai hasil pengembangannya, mulai dari aneka bus, truk, box aluminium, delivery van, hingga mobil travel.
PT Mekar Armada Jaya, perusahaan yang memiliki pabrik di Magelang ini memamerkan bus super eksekutif terbarunya, Evobus. Produk karoseri yang konsepnya digodok hampir 30 tahun itu dibanderol Rp350 juta (body), atau mencapai Rp1 miliar (chasis plus air conditioner).
Didesain secara matang, Evobus diklaim telah disesuaikan dengan kondisi jalan, cuaca, dan karakteristik demografis Indonesia. "Investasi pengembangannya mencapai Rp5 miliar," ujar Indra Krisna, Marketing General Manager New Armada-merek dagang PT Mekar Armada Jaya.
New Armada juga menjadi mitra sejumlah agen tungga pemegang merek, seperti PT Astra Daihatsu Motor, PT Indomobil Suzuki International, dan Toyota Motor Manufacturing Indonesia.
Kemampuan Indonesia juga diakui oleh Mercedes-Benz. Buktinya, pabrikan otomotif Eropa ini memercayakan pembangunan kendaraannya, seperti dua tipe bus mewah OH 1526 dan OH 1521, pada perusahaan karoseri lokal.
"Bus itu berharga Rp1,1 miliar, termasuk karoseri Rp400 juta – Rp450 juta," ujar Harry Iskandar, Bus and Van Sales Manager PT Mercedes-Benz. Bila pada tahun lalu Mercedes -Benz berhasil menjual 522 bus mewah, tahun ini menargetkan 660 unit.
Hal yang sama juga dilakukan oleh pabrikan mobil Korea Selatan. Kia Motor Indonesia, misalnya, menjadi pelanggan setia karoseri Indonesia untuk membangun mobil penumpang Travello, dan sejumlah model mobilnya, seperti pickap, dan minibus. "Kualitas produk yang dihasilkan perusahaan karoseri nasional sangat kompetitif," kata Direktur KMI Hartanto Sukmono.
Saat ini perusahaan karoseri yang terwadahi Askarindo (Asosiasi Industri Karoseri Indonesia) berjumlah 341 unit, yang keberadaannya tersebar di berbagai daerah di Indonesia dan menyerap ribuan orang tenaga kerja.
Dukungan pemerintah
Pasar karoseri pada tahun ini diyakini berkembang sedikitnya 15% seiring dengan lonjakan permintaan kendaraan komersial. Pasar kendaraan bermotor pada tahun ini diproyeksi menembus 600.000 unit atau bertumbuh sedikitnya 23,44% dari capaian tahun lalu 486.061 unit.
Hanya saja, perusahaan karoseri di Indonesia memerlukan peningkatan kapasitas dan penguatan struktur industrinya agar bisa memanfaatkan peluang pertumbuhan pasar di tengah persaingan bebas yang berpotensi mendorong masuknya produk – produk sejenis yang lebih murah.
"Kami berharap pemerintah mendukung industri ini, melindunginya," ujar Ketua Umum Asosiasi Karoseri Indonesia (Askarindo) David Herman Jaya dalam acara pembukaan pameran The Indonesia International Bus, Truck dan Components Exhibition (IIBT) 2010.
Bentuk dukungan yang dibutuhkan, kata David, adalah penurunan tarif pajak pertambahan nilai (PPN), bea masuk impor komponen, dan membebaskan PPnBM (pajak penjualan atas barang mewah) bagi semua produk karoseri lokal.
Saat ini pemerintah masih membedakan tarif PPnBM untuk produk karoseri kendaraan berkapasitas 16 penumpang lebih dengan armada serupa yang berkapasitas tempat duduk kurang dari 16 seat.
Produk karoseri kendaraan berkapasitas penumpang lebih dari 16 seat dibebaskan dari biaya PPnBM, sedangkan mobil dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit dikenai PPnBM 10%-15%.
Kalau semua tipe dibebaskan dari PPnBM atau menjadi 0%, tentu industri karoseri lokal akan makin bertumbuh, termasuk untuk produk skala kecil sehingga investasi terpacu dan membuka lapangan pekerjaan.
Selain masalah tarif PPnBM, industri karoseri pada tahun ini tidak mendapatkan insentif bea masuk ditanggung pemerintah (BM-DTP) untuk impor komponen bahan baku. Padahal dukungan ini penting sehingga melindungi industri lokal dari tekanan liberalisasi.
"Apapun bentuk dukungan itu, setidaknya membantu kami untuk bisa bersaing dengan produk impor dengan tarif murah. Kami bukannya ingin disebut manja, tapi kalau tidak dibantu tentu akan kalah bersaing," ujar Roedianto Tri Nugroho Y, Ketua Kompartemen Niaga Askarindo.
Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Kementerian Perindustrian Budi Darmadi menyatakan akan mempertimbangkan permintaan yang diajukan Askarindo.
Namun, pemerintah tidak dapat mengandalkan langkah proteksi, tetapi lebih memperkuat kapasitas dan struktur industri nasional. "Infrastruktur industri nasional juga harus dibangun, sektor hulu dan hilir harus dibenahi sehingga menjadi lebih efisien dan harga menjadi bersaing," katanya.
Setidaknya pernyataan Dirjen Budi Darmadi menjadi angin segar. Akan tetapi, kalangan industri karoseri masih harus realisasi atas permintaan yang diajukan hingga produk lokal yang diklaim memiliki kualitas global itu tetap menjadi penguasa di negeri sendiri.
Siti Munawaroh & Moh. Fatkhul Maskur
