Follow Us :

JAKARTA -Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kembali mengusulkan revisi penurunan target setoran dividen dalam pembahasan APBN-Perubahan 2009. Sebelumnya, dalam APBN 2009 target dividen ditetapkan Rp 30,79 triliun. ''Saya pikir, dengan gejolak ini, dividen tanpa interim itu Rp 24 atau 25 triliun,'' kata Sekretaris Kementerian BUMN Said Didu di Jakarta.

Pihaknya juga mengusulkan agar dividen interim atau tambahan tidak dipungut tahun ini. Sebab, dalam kondisi seperti sekarang, semua perusahaan termasuk BUMN, membutuhkan dana untuk memperkuat likuiditas perseroan. ''Sehatnya, memang jangan ada interim dulu,'' timpalnya.

Sejak dibahas pada pertengahan September 2008 lalu, angka dividen BUMN memang beberapa kali direvisi. Awalnya, pemerintah menargetkan setoran dividen 2009 sebesar Rp 33,10 triliun. Dari target tersebut, kontribusi Pertamina diharapkan sebesar Rp 13,5 triliun, sedangkan kontribusi BUMN lain diharapkan sebesar Rp 13,80 triliun, sehingga sub total dividen mencapai Rp 27,30 triliun.

Pertamina masih ditargetkan untuk menyumbang dividen dari keuntungan lonjakan harga minyak (windfall profit) sebesar Rp 9,80 triliun. Sehingga total penerimaan dividen mencapai Rp 37,1 triliun. Setelah dikurangi dividen interim Pertamina yang akan dibayar tahun 2008, maka total target setoran dividen BUMN 2009 mencapai Rp 31,1 triliun.

Namun, saat harga minyak terus anjlok, target pun kembali direvisi. Angka setoran dividen Rp 33 triliun terpaksa diturunkan menjadi Rp 27,02 triliun. Angka itu, menurut Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil lebih realistis. Dan target setoran dividen untuk RAPBN 2009 sebesar Rp 27,02 triliun tersebut merupakan dividen murni yang berasal dari pos dividen Pertamina senilai Rp 12,46 triliun, dividen 19 BUMN besar senilai Rp 12,22 triliun, dan dividen BUMN minoritas senilai Rp 2,34 triliun.

Tetapi, dalam pembahasan final dengan panitia anggaran DPR, akhirnya disepakati setoran dividen BUMN dalam APBN 2009 yang masuk dalam pos pendapatan negara bukan pajak (PNBP) 4221 sebesar Rp 30,794 triliun.

error: Content is protected