Follow Us :

KEBIJAKAN PAJAK

JAKARTA. Direktur Jenderal (Dirjen) Pajak Darmin Nasution menegaskan, petugas pajak akan semakin meningkatkan program intensifikasi pajak pada tahun depan nanti. Proses intensifikasi itu akan memakai metode benchmarking dan optimalisasi pemanfaatan data perpajakan (OPDP).

Melalui benchmarking, Ditjen Pajak akan membuat ukuran standar atas penyetoran pajak oleh Wajib Pajak (WP) atas suatu kegiatan yang dilakukan. "Dengan benchmarking petugas pajak akan mudah mengetahui pembayaran pajak yang tidak benar,"kata Dirjen Pajak Darmin Nasution, Kamis (28/8).

Sekadar mengingatkan, untuk tahun ini Ditjen pajak baru menjalankan program ekstensifikasi pajak. Mereka pun telah menetapkan empat kelompok ekstensifikasi, yang terdiri dari kelompok pengusaha, pemilik properti, para profesional dan karyawan kantoran.

"Nah, tahun depan, program ekstensifikasi ini akan berjalan berbarengan dengan program intensifikasi, namun kami lebih menonjolkan program intensifikasinya,"terang Darmin.

Asal tahun saja, Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2009 menyebutkan target penerimaan pajak Rp 670,14 triliun. Dengan target sebesar ini, mau tak mau aparat pajak mesti pandai menjaring pajak.

Dengan menjalan dua metode intensifikasi itu, Dirjen Pajak akan mengetahui potensi keseluruhan WP. Selain itu, Ditjen Pajak akan mencocokkan surat pemberitahuan pajak tahunan (SPT) dengan faktur pajak, bukan bukti potong pajak penghasilan (PPh), daftar pemegang saham, jumlah harta, dan data pembayaran pajak oleh WP. "Sehingga mekanisme terhadap kepatuhan WP dan petugas pajak lebih optimal,"tambah Darmin.

Sebelumnya, lewat program ekstensifikasi pajak, jumlah WP melonjak dari empat juta orang pada 2006 menjadi enam juta WP pada 2008.

Hans Henricus B

error: Content is protected