Follow Us :

Ditjen Pajak Merampungkan Berkas Kasus

 

JAKARTA. Pemerintah terus berusahan menuntaskan kasus dugaan penggelapan pajak PT Asian Agri. Menurut Direktur Intelijen dan Penyidikan Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak Mochamad Tjiptardjo, Ditjen Pajak telah merampungkan proses berkas perkara perusahaan produsen kelapa sawit itu. “Berkasnya siap untuk memperoleh status status P-21 atau lengkap, “ujar Tjiptardjo, Senin (20/1).

Proses penuntutan kasus ini tertunda karena, November tahun lalu. Kejaksaan Agung mengembalikan berkas penyidikan kepada penyidik pegawai negeri sipil Ditjen Pajak. Jaksa menilai berkas itu tidak lengkap. Tetap kali ini Tjiptardjo yakin berkasnya sudah siap maju ke pengadilan. “Kami akan melanjutkan prosesnya,” katanya.

Ditjen Pajak menduga Asian Agri menggelapkan pajak sejak 2002 hingga 2005 sekitar Rp 1,3 triliun. Penyidik menetapkan 13 orang direksi dan karyawan Asian Agri sebagai tersangka.

Adapun praktek penggelapan pajak yang dituduhkan adalah: pertama, menggelembungkan biaya yang dikurangkan dari penghasilan kena pajak sebesar Rp 1,5 triliun. Kedua, menggelembungkan kerugian transaksi ekspor senilai Rp 232 miliar dan melakukan transfer pricing untuk menngecilkan hasil penjualan dengan menjual CPO di bawah harga pasar senilai Rp 889 miliar.

Tapi, Juli 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan permohonan praperadilan Asian Agri dengan memutuskan bahwa sita dan geledah yang dilakukan Ditjen Pajak tidak sah. Ditjen Pajak menyita kembali dokumen sesudah Asian Agri menolak pengembalian tanggal 16 September tahun lalu.

Terakhir, pendiri Asian Agri Sukanto Tanoto mengirim surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono Asian Agri untuk meminta penyelesaian terhadap masalah ini.

Asian Agri menyatakan siap untuk menjalani proses hukum selanjutnya. “Kami siap saja. Selama ini kami juga selalu kooperatif dengan menjalani semua proses hukum,” kata General Manager Corporate Communication Asian Agri, Fiona Mambu.

Buktinya, Asian Agri tetap kooperatif ketika penyidik pajak melakukan penggeledahan dan penyitaan dokumen dan memeriksa 33 karyawan. Soal pengembalian dokumen, “Itu karena kami ingin dokumen diverifikasi semuanya tetapi penyidik menghendaki verifikasi dengan sample, jadi kami tidak bisa menerima,” katanya.

Mengenai surat Sukanto Tanoto, Fiono menyatakan wajar bahwa sebagai pendiri Asian Agri, Sukanto meminta penyelesaian kasus perusahaan secara adil. “Tidak ada yang kami inginkan, kecuali proses penyelesaian yang adil dan tuntas,” katanya.

Martina Prianti, Amal Ihsan

error: Content is protected