Follow Us :

JAKARTA: Penerimaan pajak hotel, restoran, dan hiburan di DKI sepanjang kuartal I/2009 terbukti kebal terhadap dampak krisis keuangan global.

Capaian penerimaan ketiga jenis pajak tersebut berada di atas rata-rata penerimaan pajak keseluruhan. Capaian pajak restoran yang pada kuartal I tahun lalu bahkan berada di bawah rata-rata penerimaan keseluruhan, kini telah menjadi yang tertinggi.

Sebaliknya, penerimaan pajak kendaraan bermotor dan bea balik nama kendaraan bermotor terlihat mulai melambat. Capaian penerimaan pajak balik nama yang jadi tulang punggung utama penerimaan DKI itu malah di bawah rata-rata capaian keseluruhan.

Data Dinas Pelayanan Pajak DKI menyebutkan hingga 21 April 2009, capaian penerimaan pajak hotel mencapai 26,76%, pajak restoran 34,33%, dan pajak hiburan 27,01%. Sedangkan capaian pajak kendaraan 28,57%, dan pajak balik nama kendaraan 21,93%.

Secara keseluruhan, penerimaan pajak DKI mencapai Rp2,29 triliun, atau 24,39% dari target APBD DKI 2009, Rp9,40 triliun. Dari sisi pencapaian target distribusi kuartalan, capaian ini berada tipis di bawah target, 25%.

Dari sisi nilai, kontribusi terbesar jadi milik pajak kendaraan dan bea balik nama, masing-masing Rp798,62 miliar dan Rp685,95 miliar, sedangkan kontribusi sekaligus capaian terendah adalah pajak penerangan jalan, yakni Rp6,18 juta atau 0,13% dari target Rp461,15 miliar.

Kepala Dinas Pelayanan Pajak DKI Reynalda Madjid mengatakan capaian penerimaan pajak hotel, restoran, dan hiburan yang mengesankan sedikitnya juga merupakan hasil dari upaya intensifikasi pajak yang mulai dijalankan secara sistematis selama setahun terakhir.

Selain itu, juga karena karakteristik Jakarta yang merupakan kota jasa yang menjadi tempat banyak transaksi bisnis. "Realisasi tiga jenis pajak itu kami harapkan surplus, untuk menutup proyeksi shortfall penerimaan pajak tahun ini Rp1,3 triliun."

Disinggung mengenai kontribusi pajak bea balik nama kendaraan yang turun signifikan, Reynalda berpendapat hal tersebut merupakan konsekuensi dari berkurangnya volume transaksi penjualan kendaraan yang terkena imbas krisis keuangan global.

"Pembeli kendaraan turun dibandingkan dengan tahun lalu. Ini juga dapat dilihat dari melemahnya penjualan perusahaan otomotif di Jakarta sejak Januari. Tapi karena ini masih awal tahun, diharapkan semester II capaiannya lebih baik," katanya.

Reynalda menambahkan untuk penerimaan pajak kendaraan bermotor, meski sedikit melambat, masih menunjukkan hasil memuaskan. Reynalda berharap jenis pajak tersebut akan jadi sumber pendapatan pajak daerah yang bisa diandalkan tahun ini.

Sistem online

Terkait dengan rencana perluasan pelaksanaan sistem pajak elektronik atau sistem online mulai April ini, Kepala Bidang Informasi Dinas Pelayanan Pajak DKI Naswidarti mengatakan sistem tersebut kini sudah memasuki tahap inventarisasi komputer yang digunakan wajib pajak.

Inventarisasi itu dilakukan untuk mensinkronkan sistem yang dipakai komputer wajib pajak dengan sistem yang akan digunakan.

Naswidarti menambahkan hasil inventarisasi itu akan dijadikan sebagai acuan pelaksanaan tender penyedia sistem pajak online senilai Rp8 miliar yang akan digelar Juli 2009-mundur dari rencana semula April 2009.

Selain inventarisasi, dinasnya juga telah melakukan sosialisasi mengenai sistem tersebut kepada wajib pajak. Dengan sosialisasi itu diharapkan wajib pajak tidak lagi kesulitan melaksanakan sistem tersebut.

Sistem online diujicobakan tahun lalu pada 11 wajib pajak restoran. Tahun ini, 800 wajib pajak restoran, hotel, hiburan ditargetkan masuk. Jumlah wajib pajak restoran di DKI 5.700, hotel sebanyak 400, dan hiburan sebanyak 800.

error: Content is protected