Follow Us :

JAKARTA: Tekanan bagi wajib pajak di seluruh dunia dalam mengatasi krisis ekonomi global meningkat, menyusul kebangkrutan di sektor keuangan dan industri yang selama ini menjadi penggerak utama perekonomian global.

"Pihak yang memiliki sumber daya keuangan adalah pemerintah. Namun, perlu diingat bahwa semua dana pemerintah itu berasal dari wajib pajak," jelas Root, dalam diskusi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia bertajuk "Economic Properity and Global Financial Crisis," ujar Hilton F. Root, pengajar kebijakan publik dari Universitas George Mason, Amerika Serikat, kemarin.

Karena itu, dia menilai wajar jika paket stimulus keuangan yang diluncurkan pemerintahan AS Barack Obama memberikan ketentuan pembatasan pendapatan eksekutif di perusahaan penerimaan dana stimulus.

Kondisi ini, jelasnya, untuk melindungi hak wajib pajak, bahwa dana pemerintah digunakan seefektif mungkin mengatasi krisis ekonomi.

Lebih jauh, Root menilai peningkatan tuntutan terhadap wajib pajak juga dipengaruhi oleh kebangkrutan dan kerugian yang dialami sejumlah perusahaan raksasa, seperti Lehman Brothers, Fanni Mae dan Freddie Mac, serta sebagian besar industri perbankan.

"Sebelum krisis ada perusahaan raksasa yang bisa mengumpulkan begitu banyak dana dan menciptakan pasar sendiri. Sekarang perusahaan-perusahaan itu merugi, bahkan ada yang sudah bangkrut," jelasnya.

Sementara itu, dia menilai sulit mendapatkan investasi asing ke dalam negeri, karena setiap negara mengupayakan kebijakan yang dapat menghambat arus modal keluar, melalui berbagai kebijakan, misalnya jaminan investasi dan simpanan perbankan.

Investasi turun

Terkait dengan hal itu, dari Beijing Bloomberg melaporkan investasi asing (Foreign Direct Investment/FDI) di China turun selama 4 bulan terakhir sampai Januari 2009, akibat kebijakan perusahaan mengurangi biaya produksi agar dapat bertahan pada krisis keuangan global.

Data Departemen Perdagangan China yang dirilis kemarin menyebutkan investasi turun 32,6% menjadi US$7,58 miliar dibandingkan dengan periode sama pada tahun lalu.

Sejumlah perusahaan raksasa, seperti Microsoft Corp, perusahaan perangkat lunak terbesar di dunia, sampai produsen komponen kumputer Intel Corp mengurangi biaya produksi dan karyawan.

Pelemahan investasi di China pada tahun ini, baik modal yang berasal dari luar negeri maupun dari perusahaan domestik kemungkinan menambah penurunan ekspor dan merusak pasar sektor properti.

Situasi ini dapat menghambat upaya pemerintah memulihkan perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara perekonomian terbesar ketiga di dunia.

Erna S. U. Girsang

error: Content is protected