Follow Us :

JAKARTA: Rencana pemerintah dan DPR menaikkan tarif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) hingga 200% berpotensi membuat prinsipal otomotif meninggalkan Indonesia seiring dengan penurunan permintaan akibat harga kendaraan yang kian tidak terjangkau.

Presdir Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata mengatakan tujuan menggenjot penerimaan negara melalui kebijakan menaikkan tarif PPnBM untuk sektor otomotif tidak akan tercapai karena volume penjualan kendaraan di dalam negeri dipastikan akan menyusut mengikuti kenaikan harga dan daya beli yang belum membaik.

"Jika tujuannya meningkatkan penerimaan negara, pasti tidak akan tercapai. Pasar akan terkoreksi dan ini akan membuat orang lari karena pasar mobil kita dinilai tidak memiliki daya saing lagi," katanya, kepada Bisnis, kemarin.

Wacana kenaikan tarif PPnBM hingga 200% ini merupakan salah satu bagian dari RUU Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPnBM UU PPN dan PPnBM yanga akan dibahas oleh pemerintah bersama DPR pada akhir Agustus 2008.

Tarif PPnBM tertinggi untuk kendaraan yang dipasarkan di pasar dalam negeri yang berlaku saat ini sebesar 75% yaitu untuk kendaraan berbahan bakar bensin dengan kapasitas mesin 3.000 cc atau bermesin diesel 2.500 cc dengan jenis sedan, MPV (multi purpose vehicle), SUV (sport utility vehicle) berpenggerak roda 4×4. Tarif PPnBM terendah diberikan khusus untuk kendaraan jenis MPV dengan kapasitas mesin 1.500 cc ke bawah.

Selain menaikkan penerimaan APBN, pemerintah dan DPR menaikkan tarif PPnBM dengan tujuan mengurangi jumlah mobil yang beredar di jalan, sehingga mengurangi kemacetan lalu lintas, sekaligus mengurangi penggunaan BBM.

Gunadi menilai tujuan menekan konsumsi bahan bakar dengan mengenakan tarif tertinggi PPnBM pada kendaraan berkapasitas mesin besar sebagai hal yang kurang tepat. Alasannya, perkembangan teknologi muktahir di industri otomotif telah mampu menghasilkan mobil berdapur pacu besar namun hemat BBM.

Dia mengkhawatirkan rencana ini akan berbenturan dengan upaya pemerintah melakukan penguatan sektor otomotif dan industri pendukungnya dengan memanfaatkan potensi pasar mobil domestik yang besar.

Direktur Alat Transportasi dan Kedirgantaraan Depperin pihaknya akan mendorong agar mobil yang memiliki pangsa pasar besar, hemat energi, dan mampu mendorong industri nasional tidak dikenakan tarif PPnBM yang tinggi. Dia menyebut beberapa model kendaraan a.l. mobil hibrida dan mobil listrik dan kendaraan dengan mesin 1.500 cc sampai 2.000 cc. 

Siti Munawaroh

error: Content is protected