Follow Us :

PAJAK EKSPOR CPO

JKARTA. Gabungan Asosiasi Produsen Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mengusulkan skema penghitungan baru pajak ekspor (PE) crude palm oil (CPO) mentah. Mereka berpendapat, idealnya PE CPO sebesar 10%.

Akmaluddin Hasibuan, Ketua Umum Gapki mengaku, penghitungan PE CPO saat ini cukup memberatkan. "Besaran PE sekarang masih memberatkan kami, "ujarnya akhir pekan lalu. Saat ini, harga rata-rata CPO mencapai US$ 1.183 per ton. Sesuai ketentuan, produsen dikenai PE sebesar 15%.

Akmal berharap, pemerintah segera menentukan aturan PE yang bisa membantu pengusaha, baik produsen maupun eksportir CPO. "Paling tidak, PE 10% cukup bagus, "ujarnya.

Dia menyarankan, pemerintah bisa memakai cara lain. Misalnya, pemerintah menaikkan PE CPO segera bertahap, sesuai kenaikan harga CPO dunia. Maksudnya, pemerintah boleh mengutip PE dari selisih setiap kenaikan harga CPO.

Ambil contoh, jika harga bulan lalu mencapai US$ 1.100 per ton dan sekarang menjadi US$ 1.200, kata Akmal, pemerintah bisa mengutip dari selisih US$ 100 itu. "Kami mengajukan, besarannya mencapai 10%-35% dari incremental itu,"ucapnya.

Sehingga, kata Akmal, pemerintah tidak serta merta menaikkan interval 5% setiap naik US$ 100 seperti sekarang. "Itu justru menurunkan pendapatan petani dan eksportir CPO,"ujarnya.

Gapki masih menunggu sikap pemerintah atas usulan tersebut. Dia berharap, pengiriman CPO pada Agustus nanti bisa menggunakan pola perhitungan yang baru, sehingga pengusaha di bidang CPO tetap bisa untung. "Minggu ini, kami harapkan sudah bisa menemui jalan tengah,"kata Akmal.

Meski begitu, hingga saat ini, pemerintah masih menggunakan dasar perhitungan lama, belum yang baru. "Kami masih membahas aturan tersebut, "ujar Hartojo Agus Tjahjono, Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan, Departemen Perdagangan. Agus mengaku belum mengetahui formula penghitungan baru dari pemerintah. "Sekarang masih berlaku yang lama,"katanya.

Rizky Herdiansyah

error: Content is protected