Follow Us :

JAKARTA. Kawasan Perdagangan Bebas atawa Free Trade Zone Batam, Bintan, dan Karimun (FTZ BBK) bak gadis cantik yang menjadi incaran banyak orang. Hingga Jumat pekan lalu sudah ada 768 pelaku usaha mengantongi izin berinvestasi di area perdagangan bebas yang bertetangga dekat dengan Singapura itu.

Adalah Anggota Badan Pengusahaan Kawasan I Wayan Subawa yang menyampaikan perkembangan terakhir itu. Dan investasi ke-768 pebisnis itu, "Baru yang untuk Batam saja," katanya kepada KONTAN, Selasa (23/6).

Dari jumlah tersebut, sebanyak 331 perusahaan di antaranya bergerak di sektor perdagangan. Sedang sisanya, Wayan mengungkapkan, antara lain industri yang berkecimpung di bidang perkapalan dan elektronik.

Kebanyakan pelaku usaha yang menanamkan modal di FTZ BBK itu berasal dari dalam negeri. Baru 40 investor asing saja yang sudah mengantongi izin. "Nilai rencana investasi yang ditanamkan investor asing mencapai US$ 30,875 juta dengan target bisa menyerap 2.070 tenaga kerja," ujar Wayan.

Selain menerbitkan izin investasi baru, Wayan bilang, Badan Pengusahaan Kawasan juga mengeluarkan persetujuan penambahan alias perluasan usaha atau pabrik. Total nilai rencana investasi mereka sebesar US$ 24,196 juta, yang mampu menyerap 1.941 tenaga kerja anyar.

Minat banyak pengusaha ingin berinvestasi di FTZ BBK bukan tanpa alasan. Soalnya, wilayah yang menyandang status kawasan perdagangan bebas mulai 1 April 2009 lalu itu memberikan banyak fasilitas di bidang perpajakan; mulai pembebasan bea masuk, bea keluar, pajak pertambahan nilai alias PPN, hingga pembebasan pajak penjualan atas barang mewah atawa PPnBM.

Wayan optimistis, karena semakin banyak pelaku usaha yang berminat menanamkan duitnya di FTZ BBK, target ekspor tahun ini yang dipatok sebesar US$ 10 miliar bakal tercapai. Meski begitu, lantaran memberikan banyak insentif buat investor, saban tahun, negara bakal kehilangan potensi penerimaan dari pajak hingga Rp 4 triliun.

error: Content is protected