Follow Us :

Shanghai–China akan menurunkan tarif pajak produk-produk pertanian dan nonpertanian 20-30 persen. Demikian ungkap Jurnal Sekuritas China mengutip seorang pejabat senior, Senin (24/11).

Zhang Xiangchen, Wakil Tetap China dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mengungkapkan hal tersebut, namun tidak menjelaskan detailnya. Rata-rata tarif pajak produk pertanian saat ini telah mencapai 15,2 persen, turun dari 54 persen sebelum China bergabung dengan WTO tahun 2001.

Krisis finansial global diperkirakan akan menyeret negara-negara besar ke dalam resesi tahun depan. Semua negara akan terkena dampaknya, termasuk China, yang pendapatan terbesarnya diperoleh dari ekspor.

Sementara itu, sektor tenaga kerja di Cina-seperti dikutip BBC Indonesia akihr pekan lalu, diperkirakan akan suram, di tengah kekhawatiran masalah perekonomian memicu kerusuhan sosial. Angka pengangguran diperkirakan meningkat tahun depan di saat berbagai perusahaan dan kantor tutup karena permintaan sepi.

Para pemimpin Cina sudah mengingatkan bahwa kelesuan ekonomi menuai semakin banyak protes dari orang-orang yang menghadapi kesulitan keuangan. Hal itu juga bisa mengancam kepemimpinan Cina yang legitimasinya dibangun di atas janji memperbaiki standar kehidupan rakyatnya.

Dalam beberapa minggu terakhir, terdapat peningkatan tanda-tanda bahwa Cina merasakan dampak kelambatan ekonomi global. Yin Weimin, Menteri Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial, mengatakan bahwa masalah ekonomi menyebabkan kondisi tenaga kerja di Cina suram.

"Ini khususnya terjadi pada perusahaan yang mengandalkan banyak tenaga kerja, pada usaha kecil dan menengah," kata Yin Weimin pada sebuah jumpa pers.

Dia mengatakan, beberapa perusahaan sudah bangkrut, sementara yang lainnya mengurangi produksi sehingga harus mengurangi jumlah karyawannya.

Pejabat berwenang Cina berharap angka pengangguran bisa ditekan agar tidak melebihi target 4,5% tahun ini. Namun, angka itu diperkirakan akan naik tahun depan.

error: Content is protected