Buku Mahal karena Pajak dan Naiknya Harga Kertas

Harian Kompas
July 16, 2008

Penerbit berharap, pemerintah menyubsidi harga buku guna memperluas akses terhadap buku pelajaran, selain membuat buku digital.

 

Jakarta, Kompas - Harga kertas dan pajak masih menjadi alasan penerbit terkait sulitnya menekan harga buku, terutama buku pelajaran sekolah. Penerbit berharap, pemerintah menyubsidi harga buku guna memperluas akses terhadap buku pelajaran, selain membuat buku digital.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid, Selasa (15/7). Seperti diberitakan sebelumnya, orangtua kembali dibebani biaya buku pelajaran begitu memasuki tahun ajaran baru. Sebagai gambaran, di Jakarta, orangtua mengeluarkan dana sekitar Rp 200.000 hingga Rp 1.000.000 untuk buku pelajaran satu semester. Buku digital program Departemen Pendidikan Nasional belum disosialisasikan, apalagi dimanfaatkan oleh masyarakat.

Setia Dharma yakin jika harga kertas disubsidi dan pajak buku dihilangkan, harga dapat ditekan agar lebih murah. ”Harga kertas sangat fluktuatif dan cenderung naik,” ujarnya.

Menurut dia, sekitar 60 persen biaya produksi buku ditujukan untuk bahan baku yang sebagian besar merupakan kertas. Selebihnya, untuk distribusi, pemasaran, dan royalti pengarang. ”Penerbit paling tinggi mengambil keuntungan 15 persen,” ujarnya.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), Fawzia Aswin Hadis, mengatakan, dalam penyediaan buku teks pelajaran, sekolah mestinya bisa menyediakan buku teks di perpustakaan.

Menurut Fawzia, BSNP telah menilai buku teks pelajaran yang dibeli hak ciptanya oleh pemerintah maupun penerbit yang bisa dipakai hingga lima tahun.

Buku digital

Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo menyatakan, pemerintah sudah membagikan buku digital kepada dinas pendidikan kota dan kabupaten dalam rangka menekan biaya pembelian buku. Karena itu, beban biaya pendidikan untuk buku mestinya tidak memberatkan.

”Tidak ada alasan bagi para kepala dinas pendidikan kota dan kabupaten untuk tidak menyebarkannya,” ujar Bambang Sudibyo seusai membuka Festival Kesenian Internasional 2008 di Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Seni dan Budaya di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (15/7).

Dinas pendidikan kota dan kabupaten, lanjut Mendiknas, sudah diberikan akses untuk mengunduh melalui internet dan dibagikan buku digital ini dalam bentuk compact disc (CD).

”Jika biaya buku sampai mahal berarti kesalahan ada di mereka (kepala dinas kota dan kabupaten) ini,” ujar Mendiknas Bambang Sudibyo.

crossmenu linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram