Follow Us :

BALIKPAPAN: Pemkot Balikpapan berencana menaikkan target setoran pajak reklame hingga sebesar 300%, sejalan dengan penurunan volume bagi hasil dari sektor minyak dan gas yang diterima kas daerah.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Soeryanto menyatakan kenaikan pajak reklame itu merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan dari sektor lain, selain dengan upaya me-ngurangi sejumlah kegiatan dan proyek.

“Selama ini tarif reklame Balikpapan termasuk paling rendah dibanding daerah-daerah lain di Indonesia. Hal ini menyebabkan pemasukan untuk daerah jadi sangat sedikit dari sektor ini,” ujarnya di Balikpapan, akhir pekan lalu.

Dia menyatakan upaya menaikkan setoran pajak reklame itu akan ditempuh dengan merevisi peraturan daerah tentang pajak daerah. Dia menargetkan pada 2010 kenaikan tarif efektif pajak reklame itu sudah bisa diberlakukan.

Selama ini, katanya, pemkot hanya menerima sekitar Rp 2,5 miliar dari pajak reklame setiap tahun. Angka ini dinilai masih sangat sedikit bila dibandingkan dengan beberapa kota sejenis. Soeryanto menilai, Balikpapan setipe dengan Kota Padang dan Pekanbaru di Sumatra.

Bila membandingkan dengan setoran pajak reklame ke kas daerah, masing-masing kota itu bisa mengumpulkan Rp10 miliar per tahun. “Karena itu, solusi pertamanya adalah merevisi Perda Pajak Reklame,” tegasnya.

Soeryanto mengharapkan penerimaan daerah dari sektor tersebut juga bisa mencapai Rp8 miliar-Rp10 miliar setahun atau 200%-300% dari rerata penerimaan selama ini. “Kami mengacu pada kota sejenis. Harapan kita bisa memperoleh pendapatan sebesar kota-kota itu.”

Bagi hasil migas yang diterima Balikpapan sendiri, katanya, telah menurun sampai 6%. Berdasar APBD 2009, bagi hasil migas sejumlah Rp741 miliar tetapi turun sampai Rp 694 miliar di APBD Perubahan 2009 Kota Balikpapan.

Menurut Soeryanto, penurunan lebih besar diprediksi terjadi untuk APBD 2010. Dia memperkirakan Pemkot Balikpapan yang bakal menerima Rp906 miliar dari target yang ditetapkan Rp953 miliar pada 2010.

“Kemudian setelah terjadi revisi prediksi menurun lagi menjadi Rp696 miliar. Jadi kalau dihitung penurunan pendapatan yang seharusnya bisa didapat di 2010 sampai Rp 240 miliar. Ini perlu diantisipasi dengan kenaikan setoran pajak yang lain " kata Soeryanto.

error: Content is protected