Follow Us :

Jakarta, Kompas – Pemerintah harus mengumumkan hasil audit kapal kepada masyarakat. Selain meningkatkan kepercayaan atas transportasi laut, juga menunjukkan pada dunia internasional bahwa Indonesia serius dalam meningkatkan keselamatan transportasi.

Demikian dikatakan pemerhati transportasi, Rudy Thehamihardja, Minggu (21/6), dihubungi di Bogor. Rudy mengatakan, untuk mengaudit transportasi laut tinggal mengadopsi ketentuan yang ada di dalam International Maritime Organization.

”Setelah audit dilakukan, idealnya diumumkan di media massa sehingga masyarakat tahu, perusahaan pelayaran mana yang memenuhi syarat. Atau, kapal mana yang aman,” kata Rudy.

Pekan lalu, Direktur Jenderal Perhubungan Laut Sunaryo mengatakan tetap akan mengaudit kapal tiap tiga bulan. Audit tersebut sebelumnya dikerjakan di transportasi udara terhadap maskapai penerbangan.

Audit atas penerbangan memang tidak diumumkan, tetapi dapat diakses di www.dephub.go.id. Untuk periode Maret 2009, misalnya, maskapai yang masuk kategori I di antaranya Garuda, Merpati, Mandala Air, Lion Air, dan AirAsia.

Sejumlah pengamat penerbangan pun sempat mengecam kategorisasi audit pesawat, sebab membaginya dalam dua kategori. Di Amerika, hanya satu kategori, yakni memenuhi persyaratan terbang atau ”dikandangkan”.

Direktur Perkapalan dan Kepelautan Ditjen Perhubungan Laut Abdul Gani menegaskan, ada 6.000 unit kapal yang harus diaudit. ”Departemen Perhubungan tak mampu bekerja sendiri, harus dibantu pemerintah daerah atau swasta,” kata dia.

Insentif

Dikatakan Rudy, ketika sebuah perusahaan pelayaran lolos audit, seharusnya diberlakuan pengurangan pajak. Hal ini akan mendorong perusahaan pelayaran lain membenahi pemeliharaan kapal.

”Minimal, premi asuransinya dikurangi. Sebaliknya, bila perusahaan pelayaran tak lolos audit dapat dikenai sanksi berupa dinaikkan premi asuransinya,” ujar Rudy. Mekanisme sanksi dan insentif, kata Rudy, merupakan langkah reformasi membenahi transportasi di Indonesia.

Pembenahan transportasi yang diawali audit, kata Rudy, merupakan kampanye positif bagi dunia transportasi. ”Tentunya, kita tak ingin seperti transportasi udara, di mana ada pelarangan bagi warga negara asing menumpang kapal kita,” ujar dia.

Untuk menanamkan citra positif di dunia, jangan sampai banyaknya kecelakaan di pelayaran memicu penolakan pengenaan asuransi oleh perusahaan asuransi kelas dunia di Indonesia.

Di perhubungan darat, pemilihan perusahaan otobus terbaik tidak sekadar bagaimana memelihara bus, tetapi juga soal keberlanjutan bisnis, adaptasi teknologi (perekam jejak posisi bus), hingga yang mampu mengoptimalkan penggunaan manusia ketimbang perangkat informasi teknologi.

error: Content is protected